Senin, 29 Desember 2014

cuma jadi hujan: 3

hai, hujan sekarang senang, hujan sama tanah udah menjelang 1 tahun. bersyukur sama Tuhan yang membuat kita bersama.
tanaman kita pun makin tumbuh besar, makin tinggi, daunnya juga udah banyak, bahkan sebelum musim hujan tiba, sudah bermekaran bunga bunga indah yang tumbuh.

saat aku jatuh ke bumi, aku mendengar manusia berkata "semakin tinggi pohon, semakin banyak juga angin yang menerpa".
aku langsung melihat tanaman kita di sana, ternyata daunnya mengering, mengering dan terus mengering. aku berusaha memberi banyak air ditanaman itu, akhirnya ada satu daun yang menghijau. aku bersyukur usahaku tidak siasia walau hanya 1 daun.

sekarang sudah musim penghujan. musim hujan adalah musim favoritku, karna disaat itulah aku dan tanah mulai menanam tanaman kita yang subur.

tibatiba, ada beberapa gumpalan awan hitam, gelap, dan mengeluarkan petir. oh tidak, aku tak mau jatuh dengan awan gelap yang mengeluarkan petir, disertai angin saangat kencang!
ooh tidaak aku tidak mauuu!
tapi aku tak bisa berbuat apa apa, ini bagianku, awan. aku melawan tapi tertiup angin kencang.
aku ingin melindungi tanaman kita tanah, tolong aku, aku takut tanaman kita roboh dan mati! tolong! lindungi tanaman kita tanah tolong!
ayolah, kamu cuma terdiam? tidak bisa berbuat apapun?!
*pltaak!!*

hah, aku tak percaya, tanaman yang kuat, yang aku jaga dengan tanah ternyata patah begitu saja. aku sedih, sangat.
hei tanah, kamu kenapa? kamu membiarkan tangkai itu patah?
kenapa? kamu gamau menjaga tanaman itu lagi? mengapa? apa salahku tanah?

hhh. yasudahlah, sudah patah mau diapakan lagi? yang tersisa hanya akar, batang yang besar, dan sedikit daun. yah, aku bersyukur masih bisa bertahan tanaman itu. aku minta maaf tanah, aku mungkin terlalu egois, nyatanya memang susah buat menjaga tanaman itu, apalagi aku hanya berbentuk hujan yang hanya menjaga bagian atas saja. dan kau tanah, hanya menjaga bagian bawah saja. nyatanya, ternyata tanaman tidak kuat dengan badai itu. maaf tanah, maafkan hujan.

hujan gamau kehilangan tanaman kita, dan kamu, tanah.
hujan ingin selamanya kita bersama.
ternyata, banyak badai yang menerpa.

kalau mungkin masih bisa dipertahankan tanaman kita, akan aku usahakan semuanya akan baikbaik saja tanah, aku berjanji.
tapi, kalau tanaman kita kuat sampe musim hujan ini karna ada badai lagi, aku gapapa. mungkin Tuhan ga menakdirkan tanaman itu tumbuh ya. terimakasih tanah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar